IDH syarah thahawiyahlmu akidah merupakan ilmu agama paling
muliaDengan ilmu akidah seorang hamba mengenal Allah - Subhanahu Wa
Ta'ala - sebagai tuhan sesembahan nya apa yang wajib atasnya kepada
Allah serta amal-amal menjadi shahih dan diterima di sisi Allah -
bila akidah pelakunya shahih.
Akidah yang haq adalah akidah yang dipegang oleh Rosulullah - Sholallahu Alaihi Wassalam - dan para sahabat nabi - Rodliallahu Anhum - yang merupakan umat terbaik setelah Rosululloh. Hanya saja Sunnah Allah yang berlaku pada makhluk Nya menetapkan adanya rintangan yang menghadang akidah yang haq ini sehingga terjadilah apa yang telah oleh disinyalir Rasulullah berupa perpecahan umat ini menjadi banyak kelompok golongan tetapi Ahlus Sunnah wal Jama'ah tetap teguh di atas manhaj Salaf ash-Shalih membela akidah yang ini menyebarkan tauhid murni dan memerangi ahli bid'ah dan pengusung hawa nafsu.
Di antara mereka ini adalah Imam Abu Ja'far ath-Thahawi - rahimahullah- ( wafat 321 H) penulis matan akidah yang dikenal dengan nama beliau sendiri : Aqidah Thahawiyah di mana beliau menulis intisari akidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah menjelaskan apa yang benar yang wajib atas setiap Muslim untuk meyakininya dan memperingatkan pendapat-pendapat ahli bid'ah dan aliran-aliran sesat.
Berkata Imam Abu Ja’far Al Warraq Ath Thahawi Al Hanafi- rahimahullah- dalam muqodimah matan aqidah Thahawiyah ini adalah penjelasan akidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah berdasarkan madzhab para ulama fikih Agama ini: Abu Hanifah an Nu’man bin Tsabit al-Kufi Abu Yusuf Ya'qub bin Ibrahim Al Anshari dan Abu Abdullah Muhammad bin al-Hasan asy Syaibani – rahimakumulloh- berikut apa yang mereka yakini dari pokok-pokok Agama ini dan mereka anut sebagai agama bagi Tuhan alam semesta."
Matan ini telah disyarah oleh beberapa ulama dan yang terbaik dan tershahih manhajnya adalah syarah Imam Ibnu Abu al-Izz al-Hanafi - rahimahullah- (wafat 792 H) yang Allah - Subhanahu Wa Ta'ala - telah menjadikannya bermanfaat bagi kaum Muslimin secara khusus di zaman-zaman akhir yang mana umat Islam diuji dengan jauhnya mereka dari agama dan syariat Tuhan mereka.
Kemudian Allah memberikan umat Islam di zaman-zaman akhir ini kepada kesadaran untuk bangkit beragama yang menyebar di berbagai negeri Islam anak-anak muda mulai bergerak kembali kepada Kitab Allah dan Sunnah Rasulullah dan di antara karunia Allah di balik kesadaran ini adalah adanya orang-orang yang berpegang kepada akidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah dan menolak akidah-akidah ahli bid'ah dan aliran-aliran sesat.
Faktor ini menambah sisi urgensi syarah yang berharga ini maka ahli ilmu pun memberikan perhatian mereka sehingga ia dicetak berulang-ulang. Hanya saja buku ini dengan kemuliaan dan keshahihan kandungannya ia tidak selamat dari beberapa hal yang mungkin menyulitkan pembaca biasa atau penuntut ilmu pemula untuk mengkajinya dan menimba faidah-faidah darinya. Salah satu yang terpenting dari hal tersebut adalah tidak tersusunnya buku secara sistematis yang bisa membantu pembaca memahami bab-bab akidah dan bagian-bagiannya. Hal ini bisa dimaklumi karena pensyarah hanya mengikuti urutan matan yang ditulis oleh Imam ath-Thahawi sementara ath-Thahawi sendiri tidak mengurutkan matannya secara sistematis namun sebaliknya beliau mengangkat satu tema pada tempat-tempat yang terpencar di mana beliau menulis satu tema kemudian meninggalkannya beralih ke tema lainnya kemudian kembali ke tema pertama dan begitu seterusnya.
IDH syarah thahawiyahlmu aqidah is the most noble religion with the knowledge of aqidah a servant knows Allah - Subhanahu Wa Ta'ala - as a god of his worship what is obligatory upon Allah and deeds are authentic and acceptable in Allah's side - if the culprit of the culprit is authentic.
The righteous creed is the creed held by the Prophet - Sholallahu Alaihi Wassalam - and the companions of the Prophet - Rodliallahu Anhum - who are the best people after Rosululloh. It's just that the Sunnah of Allah that applies to His creatures determines the existence of obstacles that confront this righteous belief so what happened was what the Prophet said in the form of the division of this people into many groups of groups but Ahlus Sunnah wal Jama'ah remained firm on manhaj Salaf ash-Shalih defends this aqidah spreads pure monotheism and combats heresy and bearers of lust.
Among them is Imam Abu Ja'far ath-Thahawi - rahimahullah- (died 321 AH) author of the creed of the faith known by his own name: Aqidah Thahawiyah where he wrote the essence of the Ahlus Sunnah wal Jama'ah explaining what the right which is obligatory for every Muslim to believe and warn the opinions of heretics and heretics.
Said Imam Abu Ja'far Al Warraq Ath Thahawi Al Hanafi-rahimahullah - in muqodimah matan aqidah Thahawiyah "this is an explanation of Ahlus Sunnah wal jamaah based on the schools of Islamic jurisprudence of the Religion: Abu Hanifa an Nu'man ibn Thabit al- Kufi Abu Yusuf Ya'qub ibn Ibrahim Al Ansari and Abu Abdullah Muhammad ibn al-Hasan asy Syaibani - rahimakumulloh- here are what they believe in the points of this Religion and they claim to be religion for the Lord of the universe. "
This Matan has been directed by several scholars and the best and most respected manhaj is the shahd of Imam Ibn Abu al-Izz al-Hanafi - rahimahullah- (died 792 AH) which Allah - Subhanahu Wa Ta'ala - has made it beneficial for Muslims specifically in the last days in which Muslims were tested far away from their religion and Shari'a.
Then Allah gives Muslims in these last days to the awareness to rise up in the religion that spreads in various Islamic countries young people begin to move back to the Book of Allah and the Sunnah of the Prophet and among the gifts of Allah behind this awareness is the existence of people people who hold to the Ahlus Sunnah wal Jama'ah creed and reject the creeds of the heretics and heretics.
This factor adds to the side of the urgency of this precious shari'a so the expert of science gives their attention so that it is printed repeatedly. It's just that this book with its glory and content is not saved from a number of things that might make it difficult for ordinary readers or beginners to study it and draw the rules from it. One of the most important of these is the systematic arrangement of books that can help readers understand the chapters of the faith and its parts. This is understandable because directionalism only follows the order of writing written by Imam ath-Thahawi while ath-Thahawi himself does not systematically list his death but on the contrary he raises one theme in scattered places where he writes one theme then leave it to another theme then return to the first theme and so on.
Akidah yang haq adalah akidah yang dipegang oleh Rosulullah - Sholallahu Alaihi Wassalam - dan para sahabat nabi - Rodliallahu Anhum - yang merupakan umat terbaik setelah Rosululloh. Hanya saja Sunnah Allah yang berlaku pada makhluk Nya menetapkan adanya rintangan yang menghadang akidah yang haq ini sehingga terjadilah apa yang telah oleh disinyalir Rasulullah berupa perpecahan umat ini menjadi banyak kelompok golongan tetapi Ahlus Sunnah wal Jama'ah tetap teguh di atas manhaj Salaf ash-Shalih membela akidah yang ini menyebarkan tauhid murni dan memerangi ahli bid'ah dan pengusung hawa nafsu.
Di antara mereka ini adalah Imam Abu Ja'far ath-Thahawi - rahimahullah- ( wafat 321 H) penulis matan akidah yang dikenal dengan nama beliau sendiri : Aqidah Thahawiyah di mana beliau menulis intisari akidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah menjelaskan apa yang benar yang wajib atas setiap Muslim untuk meyakininya dan memperingatkan pendapat-pendapat ahli bid'ah dan aliran-aliran sesat.
Berkata Imam Abu Ja’far Al Warraq Ath Thahawi Al Hanafi- rahimahullah- dalam muqodimah matan aqidah Thahawiyah ini adalah penjelasan akidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah berdasarkan madzhab para ulama fikih Agama ini: Abu Hanifah an Nu’man bin Tsabit al-Kufi Abu Yusuf Ya'qub bin Ibrahim Al Anshari dan Abu Abdullah Muhammad bin al-Hasan asy Syaibani – rahimakumulloh- berikut apa yang mereka yakini dari pokok-pokok Agama ini dan mereka anut sebagai agama bagi Tuhan alam semesta."
Matan ini telah disyarah oleh beberapa ulama dan yang terbaik dan tershahih manhajnya adalah syarah Imam Ibnu Abu al-Izz al-Hanafi - rahimahullah- (wafat 792 H) yang Allah - Subhanahu Wa Ta'ala - telah menjadikannya bermanfaat bagi kaum Muslimin secara khusus di zaman-zaman akhir yang mana umat Islam diuji dengan jauhnya mereka dari agama dan syariat Tuhan mereka.
Kemudian Allah memberikan umat Islam di zaman-zaman akhir ini kepada kesadaran untuk bangkit beragama yang menyebar di berbagai negeri Islam anak-anak muda mulai bergerak kembali kepada Kitab Allah dan Sunnah Rasulullah dan di antara karunia Allah di balik kesadaran ini adalah adanya orang-orang yang berpegang kepada akidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah dan menolak akidah-akidah ahli bid'ah dan aliran-aliran sesat.
Faktor ini menambah sisi urgensi syarah yang berharga ini maka ahli ilmu pun memberikan perhatian mereka sehingga ia dicetak berulang-ulang. Hanya saja buku ini dengan kemuliaan dan keshahihan kandungannya ia tidak selamat dari beberapa hal yang mungkin menyulitkan pembaca biasa atau penuntut ilmu pemula untuk mengkajinya dan menimba faidah-faidah darinya. Salah satu yang terpenting dari hal tersebut adalah tidak tersusunnya buku secara sistematis yang bisa membantu pembaca memahami bab-bab akidah dan bagian-bagiannya. Hal ini bisa dimaklumi karena pensyarah hanya mengikuti urutan matan yang ditulis oleh Imam ath-Thahawi sementara ath-Thahawi sendiri tidak mengurutkan matannya secara sistematis namun sebaliknya beliau mengangkat satu tema pada tempat-tempat yang terpencar di mana beliau menulis satu tema kemudian meninggalkannya beralih ke tema lainnya kemudian kembali ke tema pertama dan begitu seterusnya.
IDH syarah thahawiyahlmu aqidah is the most noble religion with the knowledge of aqidah a servant knows Allah - Subhanahu Wa Ta'ala - as a god of his worship what is obligatory upon Allah and deeds are authentic and acceptable in Allah's side - if the culprit of the culprit is authentic.
The righteous creed is the creed held by the Prophet - Sholallahu Alaihi Wassalam - and the companions of the Prophet - Rodliallahu Anhum - who are the best people after Rosululloh. It's just that the Sunnah of Allah that applies to His creatures determines the existence of obstacles that confront this righteous belief so what happened was what the Prophet said in the form of the division of this people into many groups of groups but Ahlus Sunnah wal Jama'ah remained firm on manhaj Salaf ash-Shalih defends this aqidah spreads pure monotheism and combats heresy and bearers of lust.
Among them is Imam Abu Ja'far ath-Thahawi - rahimahullah- (died 321 AH) author of the creed of the faith known by his own name: Aqidah Thahawiyah where he wrote the essence of the Ahlus Sunnah wal Jama'ah explaining what the right which is obligatory for every Muslim to believe and warn the opinions of heretics and heretics.
Said Imam Abu Ja'far Al Warraq Ath Thahawi Al Hanafi-rahimahullah - in muqodimah matan aqidah Thahawiyah "this is an explanation of Ahlus Sunnah wal jamaah based on the schools of Islamic jurisprudence of the Religion: Abu Hanifa an Nu'man ibn Thabit al- Kufi Abu Yusuf Ya'qub ibn Ibrahim Al Ansari and Abu Abdullah Muhammad ibn al-Hasan asy Syaibani - rahimakumulloh- here are what they believe in the points of this Religion and they claim to be religion for the Lord of the universe. "
This Matan has been directed by several scholars and the best and most respected manhaj is the shahd of Imam Ibn Abu al-Izz al-Hanafi - rahimahullah- (died 792 AH) which Allah - Subhanahu Wa Ta'ala - has made it beneficial for Muslims specifically in the last days in which Muslims were tested far away from their religion and Shari'a.
Then Allah gives Muslims in these last days to the awareness to rise up in the religion that spreads in various Islamic countries young people begin to move back to the Book of Allah and the Sunnah of the Prophet and among the gifts of Allah behind this awareness is the existence of people people who hold to the Ahlus Sunnah wal Jama'ah creed and reject the creeds of the heretics and heretics.
This factor adds to the side of the urgency of this precious shari'a so the expert of science gives their attention so that it is printed repeatedly. It's just that this book with its glory and content is not saved from a number of things that might make it difficult for ordinary readers or beginners to study it and draw the rules from it. One of the most important of these is the systematic arrangement of books that can help readers understand the chapters of the faith and its parts. This is understandable because directionalism only follows the order of writing written by Imam ath-Thahawi while ath-Thahawi himself does not systematically list his death but on the contrary he raises one theme in scattered places where he writes one theme then leave it to another theme then return to the first theme and so on.
Show More >
Syarah 'Aqidah Thahawiyah
Loading...
